ASKEP LUKA BAKAR / COMBUSTIO
2.1 DEFINISI
Dibawah ini terdapat beberapa pengertian dari luka
bakar diantaranya :
1. Luka
bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia
dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam. Kulit dan
jaringan yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik (Maluegha, 2007)
2. Luka
bakar adalah luka yang disebabkan oleh api, atau oleh penyebab lain misalnya
pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia serta radiasi (
Soelarto)
3. Luka
bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energy dari suatu sumber
panas kepada tubuh( Brunner and Suddarth, 2002).
2.2 PENYEBAB, TANDA DAN
GEJALA
2.2.1
PENYEBAB
Luka
bakar juga dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebab cedera diantaranya :
1)
Panas ( thermal injuries )
Terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau
objek-objek panas lainnya.
2)
Listrik ( electrical injuries )
Luka bakar electric (listrik)
disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik yang dihantarkan
melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya
voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.
3)
Kimia ( chemical injuries )
Luka bakar chemical (kimia)
disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa kuat.
Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar
menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi
misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk
keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang
industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui
dapat menyebabkan luka bakar kimia.
4)
Radiasi (Radiation Injuries).
Disebabkan oleh
terpapar dengan sumber radioaktif. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar
yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.
Luas
dan kedalaman luka bakar berhubungan dengan intensitas dan durasi dari
pemajanan terhadap agen penyebab ( Huddak and gallo, 2010)
2.2.2
FAKTOR RESIKO
Data yang berhasil dikumpulkan oleh Natinal
Burn Information Exchange menyatakan 75 % semua kasus injuri luka bakar,
terjadi didalam lingkungan rumah. Klien dengan usia lebih dari 70 tahun
beresiko tinggi untuk terjadinya luka bakar.
2.2.3
Efek Patofisiologi Luka Bakar
1.
Pada Kulit (S)
Perubahan
patofisiologik yang terjadi pada kulit segera setelah luka bakar tergantung
pada luas dan ukuran luka bakar. Untuk luka bakar yang kecil (smaller burns),
respon tubuh bersifat lokal yaitu terbatas pada area yang mengalami injuri.
Sedangkan pada luka bakar yang lebih luas misalnya 25 % dari total permukaan
tubuh (TBSA : total body surface area) atau lebih besar, maka respon
tubuh terhadap injuri dapat bersifat sistemik dan sesuai dengan luasnya injuri.
Injuri luka bakar yang luas dapat mempengaruhi semua sistem utama dari tubuh,
seperti :
2.
Sistem kardiovaskuler (B2)
Segera
setelah injuri luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif (catecholamine,
histamin, serotonin, leukotrienes, dan prostaglandin) dari jaringan
yang mengalmi injuri. Substansi-substansi ini menyebabkan meningkatnya
permeabilitas kapiler sehingga plasma merembes (to seep) kedalam sekitar
jaringan. Injuri panas yang secara langsung mengenai pembuluh akan lebih
meningkatkan permeabilitas kapiler. Injuri yang langsung mengenai memberan sel
menyebabkan sodium masuk dan potassium keluar dari sel. Secara keseluruhan akan
menimbulkan tingginya tekanan osmotik yang menyebabkan meningkatnya cairan
intracellular dan interstitial dan yang dalam keadaan lebih lanjut menyebabkan
kekurangan volume cairan intravaskuler. Luka bakar yang luas menyebabkan edema
tubuh general baik pada area yang mengalami luka maupun jaringan yang tidak mengalami
luka bakar dan terjadi penurunan sirkulasi volume darah intravaskuler. Denyut
jantung meningkat sebagai respon terhadap pelepasan catecholamine dan
terjadinya hipovolemia relatif, yang mengawali turunnya kardiac output. Kadar
hematokrit meningkat yang menunjukan hemokonsentrasi dari pengeluaran cairan
intravaskuler. Disamping itu pengeluaran cairan secara evaporasi melalui luka
terjadi 4-20 kali lebih besar dari normal. Sedangkan pengeluaran cairan yang
normal pada orang dewasa dengan suhu tubuh normal perhari adalah 350 ml. (lihat
tabel 1)
Tabel 1 : Rata-rata output cairan perhari untuk orang
dewasa
|
Rute
|
Jumlah (ml) pada suhu normal
|
|
Urin
Insensible losses:
Keringat
Feces
|
1400
350
350
100
100
|
|
Total :
|
2300
|
Sumber :
Adapted form A.C. Guyton, Textbook of medical physiology, 7th ed.
(Philadelphia: WB. Saunder Co., 1986) p. 383
Keadaan ini
dapat mengakibatkan penurunan pada perfusi organ. Jika ruang intravaskuler
tidak diisi kembali dengan cairan intravena maka shock hipovolemik dan ancaman
kematian bagi penderita luka bakar yang luas dapat terjadi.
Kurang lebih
18-36 jam setelah luka bakar, permeabilitas kapiler menurun, tetapi tidak
mencapai keadaan normal sampai 2 atau 3 minggu setelah injuri. Kardiac outuput
kembali normal dan kemudian meningkat untuk memenuhi kebutuhan hipermetabolik
tubuh kira-kira 24 jam setelah luka bakar. Perubahan pada kardiak output ini
terjadi sebelum kadar volume sirkulasi intravena kembali menjadi normal. Pada
awalnya terjadi kenaikan hematokrit yang kemudian menurun sampai di bawah
normal dalam 3-4 hari setelah luka bakar karena kehilangan sel darah merah dan
kerusakan yang terjadi pada waktu injuri. Tubuh kemudian mereabsorbsi cairan
edema dan diuresis cairan dalam 2-3 minggu berikutnya.
3.
Sistem Renal dan Gastrointestinal (B5)
Respon tubuh
pada mulanya adalah berkurangnya darah ke ginjal dan menurunnya GFR (glomerular
filtration rate), yang menyebabkan oliguri. Aliran darah menuju usus juga
berkurang, yang pada akhirnya dapat terjadi ileus intestinal dan disfungsi
gastrointestia pada klien dengan luka bakar yang lebih dari 25 %.
4.
Sistem Imun
Fungsi
sistem immune mengalami depresi. Depresi pada aktivitas lymphocyte, suatu
penurunan dalam produksi immunoglobulin, supresi aktivitas complement dan
perubahan/gangguan pada fungsi neutropil dan macrophage dapat terjadi pada
klien yang mengalami luka bakar yang luas. Perubahan-perubahan ini meningkatkan
resiko terjadinya infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup klien.
5.
Sistem Respiratori (B1)
Dapat
mengalami hipertensi arteri pulmoner, mengakibatkan penurunan kadar oksigen
arteri dan “lung compliance”.
a.
Smoke Inhalation.
Menghisap asap dapat mengakibatkan injuri pulmoner yang seringkali
berhubungan dengan injuri akibat jilatan api. Kejadian injuri inhalasi ini
diperkirakan lebih dari 30 % untuk injuri yang diakibatkan oleh api. Manifestasi klinik yang dapat diduga dari injuri
inhalasi meliputi adanya LB yang mengenai wajah, kemerahan dan pembengkakan
pada oropharynx atau nasopharynx, rambut hidung yang gosong, agitasi atau
kecemasan, tachipnoe, kemerahan pada selaput hidung, stridor, wheezing,
dyspnea, suara serak, terdapat carbon dalam sputum, dan batuk. Bronchoscopy dan
Scaning paru dapat mengkonfirmasikan diagnosis.
Patofisiologi pulmoner yang dapat terjadi pada injuri inhalasi berkaitan
dengan berat dan tipe asap atau gas yang dihirup.
1.
Keracunan Carbon Monoxide.
CO merupakan produk yang sering dihasilkan bila suatu substansi organik
terbakar. Ia merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa,
yang dapat mengikat hemoglobin 200 kali lebih besar dari oksigen. Dengan
terhirupnya CO, maka molekul oksigen digantikan dan CO secara reversibel
berikatan dengan hemoglobin sehingga membentuk carboxyhemoglobin (COHb).
Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada
kemampuan pengantaran oksigen dalam darah. Kadar COHb dapat dengan mudah
dimonitor melalui kadar serum darah. Manifestasi dari keracunan CO adalah sbb
(lihat tabel 2) :
Tabel 2 : Manifestasi klinik keracunan CO (Carbon Monoxida)
|
Kadar CO (%)
|
Manifestasi Klinik
|
|
5 – 10
11 – 20
21 – 30
31 – 40
41 – 50
> 50
|
Gangguan
tajam penglihatan
Nyeri kepala
Mual, gangguan ketangkasan
Muntah, dizines, sincope
Tachypnea, tachicardia
Coma, mati
|
Diambil dari Cioffi W.G., Rue L.W. (1991). Diagnosis
and treatment of inhalation injuries. Critical Care Clinics of North America,
3(2), 195.
2.2.4
TANDA
DAN GEJALA
Tanda dan gejala
tergantung pada kedalaman luka dan luas luka bakar.
2.2.4.1
Kedalaman luka bakar
1. Menurut
Soelarto ( Kumpulan ilmu bedah )
a. Derajat
satu
1. Kerusakan
terbatas pada lapisan epidermis
2. Ditandai
dengan kemerahan
3. Setelah
24 jam timbul gelembung yang kemudian mengelupas
4. Kulit
sembuh tanpa cacat
b.
Derajat dua
1.
Terjadi kerusakan
sebagian dermis ditandai dengan adanya bullae
2.
Dalam fase penyembuhan
akan tampak biru dari kelenjar sebasea dan akar rambut
3.
Derajat 2 dibagi
menjadi
1) Superficial
: akan sembuh dalam 2 minggu
2)
Dalam : penyembuhan
melalui jaringan granulasi tipis dan sempit akan ditutup oleh epitel yang
berasal dari dasar luka selain dari tepi luka.
c.
Derajat tiga
1.
Kerusakan seluruh
lapisan dermis atau lebih dalam
2.
Tampak epitel
terkelupas dan daerah putih karena koagulasi protein dermis
3.
Timbul eskar (dermis
yang mongering dan menciut)
4.
Adanya rasa kesemutan
5.
Setelah minggu kedua
eskar mulai lepas kemudian muncul jaringan granulasi
6.
Jika dibiarkan akan
menimbulkan kontraktur.
Perbedaan
derajat dua dan derajat tiga pada kedalaman luka bakar
Tabel 2.1 Perbedaan
derajat kedalaman luka bakar
|
No
|
Perbedaan
|
Derajat
2
|
Derajat
3
|
|
1
|
Penyebab
|
Suhu
dan lama kontak sedang
|
Suhu
lebih tinggi atau kontak lebih lama
|
|
2
|
Warna
kulit setelah epitel lepas
|
Merah
|
Putih
pucat
|
|
3
|
Rasa
sakit
|
+
|
Tidak sakit
|
|
4
|
Penyerapan
warna
|
+
|
+++
|
|
5
|
Penyembuhan
|
-Superficial
2-3 mgg
-Dalam 3-4 mgg
|
Melalui
jaringan granulasi
|
2.
Menurut critical care nursing clinics of North America
Tabel 2.2 Kedalaman luka bakar menurut critical care nursing
clinics of North America
|
Kedalaman
|
Jaringan
yang terkena
|
Penyebab
umum
|
Karakteristik
|
nyeri
|
penyembuhan
|
|
Ketebalan
parsial superficial
|
Kerusakan
epitel minimal
|
Sinar
Matahari
|
1. Kering
2. Lepuh
(-)
3. Merah
muda
4. Pucat
dgn
penekanan
|
Sangat
nyeri
|
5
hari
|
|
Ketebalan
parsial dangkal
|
Epidermis
dan minimal dermis
|
Cahaya
Cairan
panas
|
1. Lembab
2. Merah
bintik
3. Lepuh
4. Sebagian
Memucat
|
Nyeri
hiperestetik
|
21
hari
J.parut
Minimal
|
|
Ketebalan
parsial dermal dalam
|
Seluruh
epidermis,sebagian dermis,lapisan rambut epidermal dan kelenjar keringat utuh
|
Benda
padat panas,
Kebakaran
|
1. Kering
2. Pucat
3. Berlilin
|
Sensitive
terhadap tekanan
|
Lama;
jaringan parut hipertropik akhir;pembentukan kontraktur jelas
|
|
Ketebalan
penuh
|
Semua
yang diatas, dan sebagian dari lemak subcutan;dapat mengenai jaringan
ikat,otot,tulang
|
Kebakaran
Listrik
Uap
panas
Bahan
kimia
|
1. Kasar
2. Avaskuler
3. Retak-retak
4. Kuning
pucat
Sampai coklat
5. hangus
|
Sedikit
nyeri
|
Tidak
berregenerasi sendiri.
Perlu
pencangkokan
|
2.2.4.2
Luas Luka bakar
Terdapat beberapa metode untuk
menentukan luas luka bakar meliputi (1) rule of nine, (2) Lund and
Browder, dan (3) hand palm. Ukuran luka bakar dapat ditentukan
dengan menggunakan salah satu dari metode tersebut. Ukuran luka bakar
ditentukan dengan prosentase dari permukaan tubuh yang terkena luka bakar.
Akurasi dari perhitungan bervariasi menurut metode yang digunakan dan
pengalaman seseorang dalam menentukan luas luka bakar.
a.
Metode rule of nine mulai
diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian yang cepat
untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini
adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomic, dimana setiap bagian
mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 % .
Wallace
membagi tubuh menjadi 9% atau kelipatanya yang terkenal dengan” Rule of nine”
atau rule of Wallace
|
NO
|
ORGAN
|
PRESENTASE
|
|
1
|
Kepala
dan leher
|
9%
|
|
2
|
Lengan
@ 9%
|
18%
|
|
3
|
Badan
depan
|
18%
|
|
4
|
Badan
belakang
|
18%
|
|
5
|
Tungkai@18%
|
36%
|
|
6
|
Genetalia / perineum
|
1%
|
|
TOTAL
|
100%
|
|
Ada beberapa
pembagian luas luka bakar menurut usia penderita yaitu:
a. bayi
(rumus 10)
Kepala dan leher
20%
Lengan @ 10% 20%
Badan depan 20%
Badan belakang 20%
Tungkai&genetelia 20%
100%
b. anak
usia 1-3 tahun
Kepala dan leher 21%
Lengan @ 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18%
Tungkai@12% 24%
Genetalia/perineum 1%
100%
c. Anak usia 4-7 tahun
Kepala dan leher 17%
Lengan @ 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18%
Tungkai@14% 28%
Genetalia/perineum 1%
100%
d. Anak usia 8-11 tahun
Kepala dan leher 13%
Lengan @ 9% 18%
Badan depan 18%
Badan belakang 18%
Tungkai@16% 32%
Genetalia/perineum 1%
100%
e. Dewasa (12 tahun keatas)
Mengikuti
rumus “nine of rule”
berdasarkan
derajat kedalaman luka tersebut American Collage of surgeon membaginya dalam:
1. Parah
–critical
a. Derajat II 30% atau
lebih
b. Derajat III 10% atau
lebih
c. Derajat III pada tangan,
kaki,wajah
d. Komplikasi pada
pernafasan,jantung,fraktur, soft tissue injury yang luas
2. Sedang-moderate
a. Derajat II 15-30 %
b. Derajat III 5-10%
3. Ringan
–minor
a. Derajat
II < 15%
b. Derajat
III< 2%
b.
Pada metode Lund and Browder
merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh menurut usia, yang
dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar
c.
Selain dari kedua metode tersebut di
atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm.
Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan
menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan
tubuh yang mengalami luka bakar.
2.2.5
PENATALAKSANAAN
Berbagai
macam respon sistem organ yang terjadi setelah mengalami luka bakar menuntut
perlunya pendekatan antar disiplin. Perawat bertanggung jawab untuk
mengembangkan rencana perawatan yang didasarkan pada pengkajian data yang
merefleksikan kebutuhan fisik dan psikososial klien dan keluarga atau orang
lain yang dianggap penting.
Diagnosa
keperawatan, tujuan dan intervensinya dapat dilihat pada rencana perawatan di
halaman lainnya. Secara klinis klien luka bakar dapat dibagi kedalam 3 fase,
yaitu : 1) Fase emergent dan resusitasi 2) Fase acut dan 3) Fase Rehabilitasi.
Berikut ini akan diuraikan sekilas tentang fase tsb.:
2.2.5.1 Fase
Emergensi (Resusitasi)
Fase
emergensi dimulai pada saat terjadinya injury dan diakhiri dengan membaiknya
permeabilitas kapiler, yang biasanya terjadi pada 48-72 jam setelah injury.
Tujuan utama pemulihan selama fase ini adalah untuk mencegah shock hipovolemik
dan memelihara fungsi dari organ vital. Yang termasuk ke dalam fase emergensi
adalah (a) perawatan sebelum di rumah sakit, (b)
penanganan di bagian emergensi dan (c) periode resusitasi.
Hal tersebut akan dibahas berikut ini :
1.
Perawatan Sebelum di Rumah
Sakit (Pre-Hospital Care)
Perawatan sebelum klien
dibawa ke rumah sakit dimulai pada tempat kejadian luka bakar dan berakhir
ketika sampai di institusi pelayanan emergensi. Pre-hospital care dimulai
dengan :
a.
Jauhkan dan memindahkan penderita dari sumber luka bakar
b.
Kaji ABC (airway, breathing, circulation)
Airway : Bebaskan jalan nafas bebas
Breathing
: Beri oksigen
Circulation : Pemberian cairan intravena
Pertahankan panas tubuh
c.
Periksa adanya trauma yang
lain.
d.
Transportasi (segera kirim
klien ka rumah sakit)
2.
Penanganan dibagian Emergensi
/ Unit Gawat Darurat
Perawatan
di bagian emergensi merupakan kelanjutan dari tindakan yang telah diberikan
pada waktu kejadian. Jika pengkajian dan atau penanganan yang dilakukan tidak
adekuat, maka pre hospital care di berikan di bagian emergensi. Penanganan luka
(debridemen dan pembalutan) tidaklah diutamakan bila ada masalah-masalah lain
yang mengancam kehidupan klien, maka masalah inilah yang harus diutamakan.
a. Penanganan Luka Bakar Ringan
Perawatan di bagian emergensi terhadap luka bakar minor
meliputi : Menagemen
nyeri, profilaksis tetanus, perawatan luka tahap awal dan pendidikan kesehatan.
b. Penanganan Luka Bakar Berat.
Untuk
klien dengan luka yang luas, maka penanganan pada bagian emergensi akan
meliputi reevaluasi ABC (jalan nafas, kondisi pernafasan, sirkulasi )
dan trauma lain yang mungkin terjadi; resusitasi cairan (penggantian cairan yang
hilang); pemasangan kateter urine; pemasangan nasogastric tube (NGT);
pemeriksaan vital signs dan laboratorium; management nyeri; propilaksis
tetanus; pengumpulan data; dan perawatan luka.
2.2.5.2
Perawatan
di Unit Perawatan Kritis
a.
Resusitasi
Cairan
Merupakan intervensi primer pada fase ini.
Tujuan dari fase perawatan ini adalah :
1) Memperbaiki
defist cairan, elektrolit, dan protein.
2) Menggantikan
kehilangan cairan berlanjut dan mempertahankan
keseimbangan cairan.
3) Mencegah
pembentukan edema yang berlebihan.
4) Mempertahankan
haluaran urine pada orang dewasa 30 sampai 70 ml/
Formula
untuk Pemberian Cairan
Formula
Parkland atau yang biasa dengan Baxter adalah yang paling umum digunakan.
Formula lain (Tabel 2.2) yang dianjurkan mengandung berbagai jumlah koloid atau
saline hipertonik. Argumentasi tentang pemberian koloid pada 12 jam pertama
pascaluka bakar yang memungkinkan koloid-kolid untuk mengalir melalui fungsi
endotelial, dengan demikian pemberian kristaloid tidak menghasilkan manfaat
onkotik. Resusitasi saline hipertonik menurunkan jumlah cairan yang perlu
diberikan pada pasien tertentu, namun dapat menyebabkan hipernatremia berat dan harus digunakan
dengan hati-hati.
Tabel 2.3 Formula Resusitasi
Cairan
|
24 jam
pertama
|
24 jam
|
||||||
|
Formula
|
Elektrolit
|
Koloid
|
Dextros
|
Elektrolit
|
Koloid
|
Dextros
|
|
|
Evans
|
Normal saline
1 ml/kg/%
|
1 ml/kg/%
|
2000 ml
|
Setengah
kebutuhan 24 jam I
|
0,5 kebutuhan
24 jam I
|
2000 ml
|
|
|
Brooke
|
RL
1,5 ml/kg/%
|
0,5 ml/kg/%
|
2000 ml
|
Setengah dari
kebutuhan tiga perempat 24 jam I
|
0,5-0,75
kebutuhan 24 jam pertama
|
2000 ml
|
|
|
Modifikasi Brooke
|
RL
2 ml/kg/%
|
0,3-0,5 ml/kg/%
|
|||||
|
Parkland atau Baxter
|
RL
4 ml/kg/%
|
0,3-0,5 ml/kg/%
|
|||||
b.
Cedera
Inhalasi
Tujuan :
1) Memperbaiki
oksigenasi
2) Mengurangi
edema interstisial dan oklusi jalan napas.
Tindakan konvensional pada cedera inhalasi
sebagian besar adalah tindakan suportif. Diberikan oksigen yang dilembabkan
untuk mencegah pengeringan dan
penanggalan mukosa. Edema jalan udara bagian atas memuncak pada 24 sampai 48
jam setelah cedera. Jika keparahan cedera ringan atau sedang, pemberian
epinefrin rasemik aerosol dengan posisi Fowler’s tinggi akan cukup untuk
membatasi pembentukan edema lebih lanjut. Obstruksi berat jalan napas atas akan
memerlukan intubasi endotrakeal untuk melindungi jalan napas sampai edema
menghilang.
c.
Perfusi
Jaringan
Perawat memantau perfusi jaringan setiap jam
dengan memeriksa arus balik kapiler, perubahan-perubahan neurologi, suhu dan
warna kulit, serta adanya nadi perifer.
d.
Eskarotomi
Eksarotomi adalah insisi pada jaringan parut
yang menebal sehingga memungkinkan jaringan edematosa yang hidup dibawahnya
dapat melebar, dengan demikian memulihkan perfusi jaringan yang adekuat.
Eskarotomi dibuat pada garis midlateral atau midmedial ekstremitas yang
terkait. Prosedur dilakukan di tempat tidur, dan tidak memerlukan anestesi
local. Tempat eskarotomi ditutupi dengan agen topikal karena jaringan hidup
terpajan, dan dipasang balutan tipis (Hudak & Gallo, 2010).
e.
Gejala-gejala
Gastrointestinal
Karena resiko paralitik ileus dan distensi
lambung, pasien tidak diperbolehkan menerima cairan dan makanan per oral.
Pasang selang nasogastrik bila terjadi distensi dan mual. Drainase awalnya
dapat mengandung darah. Oleh karenanya, amati jumlah dan tipe dari drainase
untuk memastikan bahwa banyaknya darah berkurang.
f.
Imobilitas
Latihan batasan gerak (ROM) harus dilakukan
selama 5 menit setiap jam untuk mencegah kontraktur dan mengurangi edema.
g.
Perawatan
Luka
Manakala kestabilan hemodinamik dan pulmonal
telah tercapai, perhatian awal ditujukan pada perawatan awal luka bakar. Luka harus dibersihkan dengan desinfektan
untuk bedah, debridasi lembut, rambut yang tumbuh pada luka dan sekitar tepian
luka dicukur. Luka kemudian harus dibalut dengan agen antimikrobal topikal.
3.3.3.3 Fase
Akut
Fase akut dimulai ketika pasien secara hemodinamik
telah stabil, permeabilitas kapiler membaik dan diuresis telah mulai. Fase ini
umumnya dianggap terjadi pada 48-72 jam setelah injuri. Fokus management bagi klien pada fase akut adalah sebagai
berikut : mengatasi infeksi, perawatan luka, penutupan luka, nutrisi, managemen
nyeri, dan terapi fisik.
- Mengatasi infeksi
Sumber-sumber
infeksi pada klien dengan luka bakar meliputi autocontaminasi dari:
a) Oropharynx
b) Fecal
flora
c) Kulit yg
tidak terbakar dan
d) Kontaminasi
silang dari staf
e) Kontaminasi
silang dari pengunjung
f) Kontaminasi
silang dari udara
Kegiatan khusus untuk mengatasi infeksi dan
tehnik isolasi harus dilakukan pada semua pusat-pusat perawatan LB. Kegiatan ini berbeda dan meliputi penggunaan sarung
tangan, tutp kepala, masker, penutup kaki, dan pakaian plastik. Membersihkan
tangan yang baik harus ditekankan untuk menurunkan insiden kontaminasi silang
diantara klien. Staf dan pengunjung umumnya dicegah kontak dengan klien jika ia
menderita infeksi baik pada kulit, gastrointestinal atau infeksi saluran nafas.
- Perawatan luka
Perawatan luka diarahkan untuk meningkatkan penyembuhan
luka. Perawatan luka sehari-hari meliputi membersihkan luka, debridemen, dan
pembalutan luka.
a) Hidroterapi
Membersihkan luka dapat dilakukan dengan cara
hidroterapi. Hidroterapi ini terdiri dari merendam (immersion) dan
dengan shower (spray). Tindakan ini dilakukan selama 30 menit atau
kurang untuk klien dengan luka bakar akut. Jika terlalu lama dapat meningkatkan
pengeluaran sodium (karena air adalah hipotonik) melalui luka, pengeluaran
panas, nyeri dan stress. Selama hidroterapi, luka dibersihkan secara perlahan
dan atau hati-hati dengan menggunakan berbagai macam larutan seperti sodium
hipochloride, providon iodine dan chlorohexidine. Perawatan haruslah
mempertahankan agar seminimal mungkin terjadinya pendarahan dan untuk
mempertahankan temperatur selama prosedur ini dilakukan. Klien yang tidak
dianjurkan untuk dilakukan hidroterapi umumnya adalah mereka yang secara
hemodinamik tidak stabil dan yang baru dilakukan skin graft. Jika hidroterapi
tidak dilakukan, maka luka dapat dibersihkan dan dibilas di atas tempat tidur
klien dan ditambahkan dengan penggunaan zat antimikroba.
b) Debridemen
Debridemen
luka meliputi pengangkatan eschar. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan
penyembuhan luka melalui pencegahan proliferasi bakteri di bagian bawah eschar.
Debridemen luka pada LB meliputi debridemen secara mekanik, debridemen
enzymatic, dan dengan tindakan pembedahan.
1) Debridemen
mekanik
Debridemen
mekanik yaitu dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan gunting dan forcep
untuk memotong dan mengangkat eschar. Penggantian balutan merupakan cara lain
yang juga efektif dari tindakan debridemen mekanik. Tindakan ini dapat
dilakukan dengan cara menggunakan balutan basah ke kering (wet-to-dry) dan
pembalutan kering kepada balutan kering (wet-to-wet). Debridemen mekanik pada
LB dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat, oleh karena itu perlu terlebih
dahulu dilakukan tindakan untuk mengatasi nyeri yang lebih efektif.
2) Debridemen
enzymatic
Debridemen
enzymatik merupakan debridemen dengan menggunakan preparat enzym topical
proteolitik dan fibrinolitik. Produk-produk ini secara selektif mencerna
jaringan yang necrotik, dan mempermudah pengangkatan eschar. Produk-prduk ini
memerlukan lingkungan yang basah agar menjadi lebih efektif dan digunakan
secara langsung terhadap luka. Nyeri
dan perdarahan merupakan masalah utama dengan penanganan ini dan harus dikaji
secara terus-menerus selama treatment dilakukan.
3) Debridemen
pembedahan
Debridemen pembedahan luka meliputi eksisi jaringan
devitalis (mati). Terdapat 2 tehnik yang dapat digunakan : Tangential
Excision dan Fascial Excision. Pada tangential exccision adalah
dengan mencukur atau menyayat lapisan eschar yang sangat tipis sampai terlihat
jaringan yang masih hidup. sedangkan fascial excision adlaah mengangkat
jaringan luka dan lemak sampai fascia. Tehnik
ini seringkali digunakan untuk LB yang sangat dalam.
4) Balutan
a. Penggunaan
penutup luka khusus
Luka
bakar yang dalam atau full thickness pada awalnya dilakukan dengan menggunakan
zat/obat antimikroba topikal. Obat ini digunakan 1 - 2 kali setelah
pembersihan, debridemen dan inspeksi luka. Perawat perlu melakukan kajian
terhadap adanya eschar, granulasi jaringan atau adanya reepitelisasi dan adanya
tanda-tanda infeksi. Tidak ada satu obat yang digunakan secara umum, oleh
karena itu dibeberapa pusat pelayanan luka bakar ada yang memilih krim silfer
sulfadiazine sebagai pengobatan topikal awal untuk luka bakar.
b. Metode
terbuka dan tertutup
Luka
pada luka bakar dapat ditreatmen dengan menggunakan metode/tehnik belutan baik
terbuka maupun tertutup. Untuk metode terbuka digunakan/dioleskan cream
antimikroba secara merata dan dibiarkan terbuka terhadap udara tanpa dibalut.
Cream tersebut dapat diulang penggunaannya sesuai kebutuhan, yaitu setiap 12
jam sesuai dengan aktivitas obat tersebut. kelebihan dari metode ini adalah
bahwa luka dapat lebih mudah diobservasi, memudahkan mobilitas dan ROM sendi,
dan perawatan luka menjadi lebih sederhana/mudah. Sedangkan kelemahan dari
metode ini adalah meningkatnya kemungkinan terjadinya hipotermia, dan efeknya
psikologis pada klien karena seringnya dilihat.
Pada
perawatan luka dengan metode tertutup, memerlukan bermacam-macam tipe balutan
yang digunakan. Balutan disiapkan untuk digunakan sebagai penutup pada cream
yang digunakan. Dalam menggunakan balutan hendaknya hati-hati dimulai dari
bagian distal kearah proximal untuk menjamin agar sirkulasi tidak terganggu.
Keuntungan dari metode ini adalah mengurangi evaporasi cairan dan kehilangan
panas dari permukaan luka , balutan juga membantu dalam debridemen. Sedangkan
kerugiannya adalah membatasi mobilitas menurunkan kemungkinan efektifitas
exercise ROM. Pemeriksaan luka juga menjadi terbatas, karena hanya dapat
dilakukan jika sedang mengganti balutan saja.
- Penutupan luka
a. Penutupan
Luka Sementara
Penutupan
luka sementara sering digunakan sebagai pembalut luka. Setiap produk penutup
luka tersebut mempunyai indikasi khusus. Karakteristik luka (kedalamannya,
banyaknya eksudat, lokasi luka pada tubuh dan fase penyembuhan/pemulihan) serta
tujuan tindakan/pengobatan perlu dipertimbangkan bila akan memilih penutup luka
yang lebih tepat.
b. Pencangkokan
kulit
Pencangkokan
kulit yang berasal dari bagian kulit yang utuh dari penderita itu sendiri (autografting) adalah pembedahan dengan
mengangkat lapisan kulit tipis yang masih utuh dan kemudian digunakan pada luka
bakar yang telah dieksisi. Prosedur ini dilakukan di ruang operasi dengan
pemberian anastesi.
Perawatan
post operasi autograft meliputi: mengkaji perdarahan dari tempat donor;
memperbaiki posisi dan immobilisasi tempat donor; perawatan tempat donor;
perawatan khusus autograft (seperti : cultur
epitel autograft)
- Nutrisi
Mempertahankan
intake nutrisi yang adekuat selama fase akut sangatlah penting untuk
meningkatkan penyembuhan luka dan pencegahan infeksi. BMR (basal metabolik
rate) mungkin 40-100% lebih tinggi dari keadaan normal, tergantung pada luasnya
luka bakar. Respon ini diperkirakan berakibat pada hypotatamus dan adrenal yang
menyebabkan peningkatan produksi panas. Metabolik rate menurun bila luka telah
ditutup. Selain itu metabolisme glukosa berubah setelah mengalami luka bakar,
mengakibatkan hiperglikemia. Rendahnya kadar insulin selama fase resusitasi
menghambat aktifitas insulin dengan meningkatkan sirkuasi catecholamine, dan
meningkatkan glukoneogenesis selama fase akut yang semuanya mempunyai implikasi
terhadap terjadinya hiperglikemia pada klien luka bakar.
Dukungan
nutrisi yang agresif diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat
guna meningkatkan penyembuhan dan mencegah efek katabolisme yang tidak
diharapkan.
Formula
yang digunakan untuk menghitung kebutuhan energi, dipengaruhi oleh beberapa hal
yaitu berat badan, jenis kelamin, usia, luasnya luka bakar dan aktifitas atau
injuri. Formulasinya adalah sebagai berikut:
(25 kcal x berat badan (kg) + (40 kcal x % luka bakar) = kcal/hari.
Dukungan
nutrisi yang agresif umumnya diindikasikan untuk klien luka bakar dengan 30 %
atau lebih, secara klinis memerlukan tindakan operasi multiple, perlunya
penggunaan ventilator mekanik, status mental dan status nutrisi yang buruk pada
saat belum mengalami luka bakar.
Adapun
metode pemberian nutrisi dapat meliputi diet melalui oral, enteral tube feeding, periperal parenteral nutrition,
total parenteral nutrisi, atau kombinasi.
- Manajemen nyeri
Faktor
fisiologis yang yang dapat mempengaruhi nyeri meliputi kedalaman injuri,
luasnya dan tahapan penyembuhan luka. Untuk tipe luka bakar partial thickness dan pada tempat donor
akan terasa sangat nyeri akibat stimulasi pada ujung-ujung saraf. Berlawanan
halnya dengan luka bakar full thickness
yang tidak mengalami rasa nyeri karena ujung-ujung superficial telah rusak.
namun demikian ujung-ujung saraf pada yang terletak pada bagian tepi dari luka
akan sangat sensitif. Faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi persepsi
seseorang terhadap nyeri adalah kecemasan, ketakutan dan kemampuan klien untuk
menggunakan kopingnya. Sedangkan faktor-faktor sosial meliputi pengalaman masa
lalu tentang nyeri, kepribadian, latar belakang keluarga, dan perpisahan dengan
keluarga dan rumah. Dan perlu diingat bahwa persepsi nyeri dan respon terhadap
stimuli nyeri bersifat individual oleh karena itu maka rencana penanganan
perawatan dilakukan secara individual juga.
Pendekatan
yang lebih sering digunakan untuk mengatasi rasa nyeri adalah dengan
menggunakan zat-zat farmakologik. Morphine, codein, meperidine adalah analgetik
narkotik yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri yang berkaitan dengan LB
dan treatmennya. Obat-obat farmakologik lainnya yang dapat digunakan meliputi
analgesik inhalasi seperti nitrous oxide, dll. Obat antiinflamasi nonsteroid
juga dianjurkan untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang.
Sedangkan
tindakan Nonfarmakologik yang digunakan untuk mengatasi rasa nyeri yang
berkaitan dengan luka bakar meliputi hipnotis, guided imagery, terapi bermain,
tehnik relaksasi, distraksi, dan terapi musik. Tindakan ini efektif untuk
menurunkan kecemasan dan menurunkan persepsi terhadap rasa nyeri dan seringali
digunakan bersamaan dengan penggunaan obat-obat farmakologik.
- Terapi fisik
Mempertahankan
fungsi fisik yang optimal pada klien dengan injuri LB merupakan tantangan bagi
team yang melakukan perawatan LB. Perawat harus bekerja secara teliti dengan fisioterapist dan occupational terapist
untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan rehabilitasi klien LB.
Program-program exercise, ambulasi,
aktifitas sehari-hari harus diimplementasikan secara dini pada pemulihan fase
acutsampai perbaikan fungsi secara maksimal dan perbaikan kosmetik.
Kontraktur
luka dan pembentukan scar (parut) merupakan dua masalah utama pada klien LB.
Kontraktur akibat luka dapat terjadi pada luka yang luas. Lokasi yang lebih
mudah terjadinya kontraktur adalah tangan, kepala, leher, dan axila.
Tindakan-tindakan
yang digunakan untuk mencegah dan menangani kontraktur meliputi terapi posisi,
ROM exercise, dan pendidikan pada klien dan keluarga.
a. Posisi Terapeutik
Tabel
dibawah ini merupakan daftar tehnik-tehnik posisi koreksi dan terapeutik untuk
klien dengan luka bakar yang mengenai bagian tubuh tertentu selama periode
tidak ada aktifitas (inactivity periode) atau immobilisasi. Tehnik-tehnik
posisi tersebut mempengaruhi bagian tubuh tertentu dengan tepat untuk
mengantisipasi terjadinya kontraktur atau deformitas.
b. Exercise
Latihan ROM aktif dianjurkan segera dalam pemulihan pada
fase akut untuk mengurangi edema dan mempertahankan kekuatan dan fungsi sendi.
Disamping itu melakukan kegiatan/aktivitas sehari-hari (ADL) sangat efektif
dalam mempertahankan fungsi dan ROM. Ambulasi dapat juga mempertahankan
kekuatan dan ROM pada ekstremitas bawah dan harus dimulai bila secara
fisiologis klien telah stabil. ROM pasif termasuk bagian dari rencana tindakan
pada klien yang tidak mampu melakukan latihan ROM aktif.
c. Pembidaian (Splinting)
Splint
digunakan untuk mempertahankan posisi sendi dan mencegah atau memperbaiki
kontraktur. Terdapat dua tipe splint yang seringkali digunakan, yaitu statis
dan dinamis. Statis splint merupakan immobilisasi sendi. Dilakukan pada saat immobilisasi, selama tidur, dan pada
klien yang tidak kooperatif yang tidak dapat mempertahankan posisi dengan baik.
Berlainan halnya dengan dinamic splint. Dinamic splint dapat melatih persendian
yang terkena.
d. Pendidikan
Pendidikan
pada klien dan keluarga tentang posisi yang benar dan perlunya melakukan
latihan secara kontinue. Petunjuk tertulis tentang berbagai posisi yang benar,
tentang splinting/pembidaian dan latihan rutin dapat mempermudah proses belajar
klien dan dapat menjadi lebih kooperatif.
- Mengatasi Scar
Hipertropi
scar sebagai akibat dari deposit kolagen pada luka bakar yang menyembuh.
Beratnya hipertropi scar tergantung pada beberapa faktor antara lain kedalaman
luka bakar, ras, usia, dan tipe autograft. Metode nonoperasi untuk meminimalkan
hipertropi scar adalah dengan terapi tekanan (pressure therapy). Yaitu dengan menggunakan pembungkus dan
perban/pembalut elastik (elastic wraps
and bandages). Sedangkan tindakan pembedahan untuk mengatasi kontraktur dan
hipertropi scar meliputi :
a.
Split-thickness
dan full-thickness skin graft
b.
Skin
flaps
c.
Z-plasties
d.
Tissue
expansion.
3.3.3.4
Fase Rehabilitasi
Fase rehabilitasi adalah fase pemulihan dan
merupakan fase terakhir dari perawatan luka bakar. Penekanan dari program rehabilitasi penderita luka bakar
adalah untuk peningkatan kemandirian melalui pencapaian perbaikan fungsi yang
maksimal. Tindakan-tindakan untuk meningkatkan penyembuhan luka, pencegahan
atau meminimalkan deformitas dan hipertropi scar, meningkatkan kekuatan dan
fungsi dan memberikan support emosional serta pendidikan merupakan bagian dari
proses rehabilitasi.
Fokus perawatan adalah pada upaya memaksimalkan pemulihan
psikososial klien melalui intervensi yang tepat. Terdapat 4 tahap respon
psikososial akibat trauma luka bakar yang ditandai oleh Lee sebagai berikut: impact;
retreat or withdrawal (kemunduran atau menarik diri); acknowledgement
(menerima) dan reconstructive (membangun kembali)
2.4
ASKEP
LUKA BAKAR
2.4.1 PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses
keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan data baik data subyektif maupun
data obyektif. Data subyektif diperoleh berdasarkan hasil wawancara baik dengan
klien ataupun orang lain, sedangkan data obyektif diperoleh berdasarkan hasil
observasi dan pemeriksaan fisik.
1. Data biografi
Langkah awal adalah melakukan pengkajian
terhadap data biografi klien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin,
pekerjaan, ras, dan lain-lain. Setelah pengkajian data biografi selanjutnya
dilakukan pengkajian antara lain pada :
2. Luas luka bakar
Untuk menentukan luas luka bakar dapat
digunakan salah satu metode yang ada, yaitu metode “rule of nine” atau metode “Lund
dan Browder”, seperti telah diuraikan dimuka.
3. Kedalaman luka bakar
Kedalaman luka bakar dapat dikelompokan menjadi
4 macam, yaitu luka bakar derajat I, derajat II, derajat III dan IV, dengan
ciri-ciri seperti telah diuraikan dimuka.
4. Lokasi/area luka
Luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu memerlukan
perhatian khusus, oleh karena akibatnya yang dapat menimbulkan berbagai
masalah. Seperti, jika luka bakar mengenai daerah wajah, leher dan dada dapat
mengganggu jalan nafas dan ekspansi dada yang diantaranya disebabkan karena
edema pada laring. Sedangkan jika mengenai ekstremitas maka dapat menyebabkan
penurunan sirkulasi ke daerah ekstremitas karena terbentuknya edema dan
jaringan scar. Oleh karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan pernafasan (breathing) serta sirkulasi (circulation) sangat diperlukan. Luka
bakar yang mengenai mata dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea,
kerusakan retina dan menurunnya tajam penglihatan.
5. Cedera inhalasi
Letak luka bakar juga dapat menyadarkan staf pada kemungkinan
cedera inhalasi. Perawat harus mengkaji temuan-temuan berikut ini :
1) Bulu hidung hangus terbakar
2) Luka bakar pada oral atau membran mukosa faring
3) Luka bakar pada area perioral atau leher
4) Batuk serak atau perubahan suara
5) Riwayat pernah terbakar pada area yang
terkurung
6.
Nyeri/kenyamanan:
Berbagai
nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk
disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan
sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan
derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga
tidak nyeri.
7. Masalah kesehatan lain
Adanya masalah kesehatan yang lain yang dialami
oleh klien perlu dikaji. Masalah kesehatan tersebut mungkin masalah yang
dialami oleh klien sebelum terjadi luka bakar seperti diabetes melitus, atau
penyakit pembuluh perifer dan lainnya yang akan memperlambat penyembuhan luka.
Disamping itu perlu pula diwaspadai adanya injuri lain yang terjadi pada saat
peristiwa luka bakar terjadi seperti fraktur atau trauma lainnya. Riwayat
alergi perlu diketahui baik alergi terhadap makanan, obat-obatan ataupun yang
lainnya, serta riwayat pemberian imunisasi tetanus yang lalu.
2.4.2
Pemeriksaan fisik
1) Pernafasan
(B1 : Breathing)
Gejala : terkurung dalam ruang tertutup;
terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).
Tanda : serak; batuk mengii; partikel karbon
dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera
inhalasi.
Pengembangan torak
mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau
stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal);
bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan
nafas dalam (ronkhi).
2) Kardiovaskuler
(B2 : Blood)
Tanda (dengan cedera
luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer
distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan
kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia
(syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan
(semua luka bakar).
3) Persyarafan
( B3 ; Brain )
Gejala : area batas; kesemutan.
Tanda : perubahan orientasi; afek, perilaku;
penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang
(syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan
(syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera
listrik pada aliran saraf).
4) Perkemihan
( B4 ; Blader )
Haluaran urine menurun/tak ada selama
fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin,
mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan
mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi);
5) Pencernaan
( B5 ; Bowel )
Klien biasanya mual,
muntah, anorexia,
penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar
dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.
6) Tulang,
otot dan integumen ( B6 ; Bone )
Penurunan kekuatan,
tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot,
perubahan tonus.
Kulit umum:
destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan
dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.
Area kulit tak
terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada
adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.
Cedera api: terdapat
area cedera campuran dalam sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan
terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada
faring posterior; oedema lingkar
mulut dan atau lingkar nasal.
Cedera kimia: tampak
luka bervariasi sesuai agen penyebab.
Kulit mungkin coklat
kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis;
atau jarinagn parut tebal. Cedera secara umum lebih
dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut
sampai 72 jam setelah cedera.
Cedera listrik:
cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan
luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar
dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal
sehubungan dengan pakaian terbakar.
Adanya
fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik
sehubungan dengan syok listrik).
2.4.2
Pemeriksaan diagnostik:
1) Sel darah merah (RBC): dapat terjadi penurunan
sel darah merah (Red Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat
injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena
depresi sumsum tulang.
2) Sel darah putih (WBC): dapat terjadi leukositosis
(peningkatan sel darah putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi
terhadap injuri.
3) Gas darah arteri (ABG): hal yang penting pula
diketahui adalah nilai gas darah arteri terutama jika terjadi injuri inhalasi.
Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2.
4) Karboksihemoglobin (COHbg): kadar COHbg
(karboksihemoglobin) dapat meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan
keracunan karbon monoksida.
5) Serum elektrolit :
a. Potasium pada permulaan akan meningkat karena
injuri jaringan atau kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal;
hipokalemi dapat terjadi ketika diuresis dimulai; magnesium mungkin mengalami
penurunan.
b. Sodium pada tahap permulaan menurun seiring
dengan kehilangan air dari tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia.
6) Sodium urine :jika lebih besar dari 20 mEq/L
mengindikasikan kelebihan resusitasi cairan, sedangkan jika kurang dari 10
mEq/L menunjukan tidak adekuatnya resusitasi cairan.
7) Alkaline pospatase : meningkat akibat
berpindahnya cairan interstitial/kerusakan pompa sodium.
8) Glukosa serum : meningkat sebagai refleksi
respon terhadap stres.
9) BUN/Creatinin : meningkat yang merefleksikan
menurunnya perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat
karena injuri jaringan.
10) Urin : adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam
urin mengindikasikan kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran
protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin
11) Rontgen dada: Untuk mengetahui gambaran paru
terutama pada injuri inhalasi.
12) Bronhoskopi: untuk mendiagnosa luasnya injuri
inhalasi. Mungkin dapat ditemukan adanya edema, perdarahan dan atau
ulserasi pada saluran nafas bagian atas
13) ECG: untuk mengetahui
adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrik.
14) Foto Luka: sebagai
dokumentasi untuk membandingkan perkembangan penyembuhan luka bakar.
2.4.3
DIAGNOSA
KEPERAWATAN (Smeltzer,S. & Bare, B.G., 2001)
A.
Fase
Resusitasi
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif
b.d. edema trahea, menurunnya fungsi ciliar paru akibat injuri inhalasi
- Gangguan pertukaran gas b.d. keracunan carbonmo-noxida, kerusakan paru akibat panas.
- Defisit volume cairan b.d. peningkatan permeabilitas kapiler dan perpin-dahan cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstitial
- Hipotermi yang berhubungan dengan gangguan mikrosirkulasi kulit dan luka yang terbuka.
- Perubahan perfusi jaringan perifer b.d. konstriksi akibat luka bakar.
6.
Nyeri b.d. injury luka bakar,
stimulasi ujung-ujung saraf, treatmen dan kecemasan.
- Ansietas yang berhubungan dengan ketakutan dan dampak emosional dari luka bakar.
B.
Fase
Akut
- Kelebihan volume cairan yang berhungan dengan pemulihan kembali integritas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang interstisiel kedalam intra vaskular.
- Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan hilangnya barier kulit dan terganggunya respon imun.
- Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme dan kebutuhan bagi kesembuhan luka.
- Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar terbuka.
- Nyeri yang berhubungan dengan saraf yang terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka
- Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan udema luka bakar, rasa nyeri dan kontraktur persendiaan.
- Koping tidak efektif berhubungan dengan perasaan takut serta ansietas
- Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan proses penanganan luka bakar
C.
Fase
Rehabilitasi
- Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan rasa nyeri ketika melakukan latihan, imobilitas sendi yang terbatas, pelisutan otot dan ketahanan tubuh.
- Gangguan mobilitas fisik b.d. edema, nyeri, balut-an, prosedur pembedah-an, dan kontraktur luka.
- Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan pada penampakan fisik dan konsep diri.
- Resiko tinggi gangguan harga diri b.d. ancaman perubahan/actual perubah an pada body image, kehilangan fisik dan kehilangan akan peran dan tanggungjawab.
- Kurang pengetahuan tentang perawatan dirumah sesudah pasien pulang dari rumah sakit dan kebutuhan tindak lanjut.